Marshall Plan, Cara Amerika Bendung Komunisme di Eropa


Menteri Luar Negeri Amerika Serikat saat itu, George Carlett Marshall Jr, adalah orang yang berusaha melobi pemerintahan Presiden Harry S. Truman untuk program pemulihan Eropa pasca Perang Dunia II. Selain Marshall, ada seorang industrialis bernama Lewis H. Brown yang juga merupakan penulis A Report on Germany, dimana isinya menjelaskan tentang rekonstruksi Jerman pasca perang, yang kelak menjadi dasar utama dari program Marshall Plan.

Marshall Plan menuai polemik di level elite pemerintahan. Namun perjuangan di senat berakhir setelah Marshall Plan diloloskan pada 31 Maret 1948 dan resmi berlaku per 3 April 1948, dengan nama resmi European Recovery Program (ERP) dan total dananya mencapai $12 miliar. Uang tersebut digunakan untuk membangun berbagai infrastruktur vital. Peraturan-peraturan perdagangan yang mengekang dikendorkan untuk mempermudah pebisnis berekspansi. Dana segar mengalir ke berbagai industri agar lebih produktif sekaligus menjadi bagian dari program modernisasi pabrik.

Marshall Plan dibagi berdasarkan basis per kapita. Negara industri anggota blok sekutu mendapat porsi besar karena kebangkitan pusat-pusat produksi akan menggerakkan roda perekonomian lain yang lebih luas. Sementara negara-negara poros atau netral mendapat porsi yang lebih sedikit. Kurang lebih ada 18 negara Eropa yang menerima dana Marshall Plan, dan yang terbesar adalah Inggris.

Marshall Plan diklaim sebagai bantuan luar negeri paling sukses sepanjang sejarah Amerika Serikat. Namun para sejarawan juga mengingatkan bahwa sebagaimana bantuan luar negeri Amerika lainnya, semua didasarkan pada kepentingan politik. Jadi tidak 100% atas dasar kemanusiaan. Benn Steil mengungkapkan bahwa Marshall Plan juga digunakan sebagai strategi menjegal pengaruh komunisme di Eropa. Visi tersebut sudah menjadi rahasia umum, karena George Marshall dan Presiden Harry Truman sadar bahwa perang ideologi melawan Uni Soviet dimulai pasca Perang Dunia II berakhir.

Menurut Steil, yang dikhawatirkan oleh Amerika bukan agresi militer Soviet, melainkan tantangan ekonomi serta dinamika sosial dan politik yang akan melanda negara-negara Eropa barat. Jerman telah berubah menjadi palagan perang ideologi baru setelah terbelah menjadi Jerman Timur dan Jerman Barat. Jerman yang memiliki sumber daya alam melimpah dan alat-alat industri menjadi prioritas utama Amerika untuk dimenangkan agar ekonomi Eropa segera bangkit.

Partai-partai komunis mendapat dukungan yang besar di Perancis dan beberapa negara lainnya di Eropa, mengingat gerakan kiri memiliki peran besar dalam perjuangan mengusir kelompok-kelompok fasis. Beberapa negara Eropa mulai memperkuat sistem pemerintahannya dengan mengadopsi sistem yang cenderung kekiri-kirian pasca Perang Dunia II. Amerika mulai ketar-ketir. Kremlin dianggap bisa memenangkan hegemoni atas Benua Eropa tanpa berperang. Ketakutan ini yang membuat Marshall Plan disahkan dengan cepat walaupun menggunakan dana yang besar.

Gerhard Wettig memaparkan bahwa Marshall Plan juga membuat Soviet Gusar. Menteri Luar Negeri Soviet, Vyacheslav Molotov, menyatakan Soviet tidak sudi menerima duit dari program Marshall Plan. Soviet juga mempertegas permusuhan dengan Amerika melalui berbagai pernyataan dan Soviet juga menuding Amerika ingin memfasiskan kembali Eropa melalui bantuan kemanusiaan tersebut.
Molotov kemudian menciptakan program Molotov Plan yang bertujuan untuk membangun perekonomian negara-negara Eropa Timur, atau minimal menjaga agar negara-negara tersebut tidak membelot ke Amerika.

Saat itu, segala bentuk pembelotan akan dibayar mahal. Cekoslowakia contohnya. Setelah mereka memutuskan untuk menerima bantuan Marshall Plan, tidak lama kemudian terjadi kudeta berdarah yang dimotori oleh Partai Komunis Cekoslowakia dan dibekingi oleh Uni Soviet, yang membuat Cekoslowakia dikuasai oleh rezim komunis.

Menurut Frances S. Saunders, 5% dari anggaran Marshall Plan diberikan kepada CIA dengan tujuan melawan pengaruh Soviet di Eropa Timur. Setelah beberapa tahun, Marshall Plan benar-benar memberikan dampak positif bagi kesejahteraan negara-negara Eropa. Namun kesuksesan Amerika sesungguhnya ada di ranah pertarungan ideologi, karena pengaruh komunisme di Eropa Barat dapat diminimalisir.

Marshall Plan dihentikan pada 1951 saat Amerika mulai terlibat dalam Perang Korea. Namun program bantuan luar negeri lainnya dengan visi yang sama masih berjalan, mengingat pertarungan ideologi bersifat abadi, atau setidaknya sampai Soviet runtuh pada 1991.

0 Comments