Bubarnya Uni Soviet


Uni Soviet pernah menjadi negara terluas di dunia, berhasil mengalahkan pasukan Nazi Jerman pada Pertempuran Berlin, mendirikan Pakta Warsawa, memiliki puluhan ribu senjata nuklir, hingga sukses mengembangkan program luar angkasa. Namun semuanya selesai sejak 1 Januari 1991. Uni Soviet mengalami keretakan. Pemimpin Rusia, Belarusia, dan Ukraina yang merupakan pelopor berdirinya Uni Soviet menandatangani perjanjian yang mengatur persemakmuran negara-negara merdeka pada 8 Desember 1991, yang menjadi awal bubarnya Uni Soviet. Pada 26 Desember 1991, Uni Soviet resmi bubar.

Uni Soviet lebih banyak berbicara kepada dunia saat dipimpin oleh Joseph Stalin ketimbang saat dipimpin oleh pemimpin sebelumnya, Vladimir Lenin. Stalin menggenjot program yang membuat Soviet menjadi negara industri modern. Produksi batubara, minyak, baja, dan lainnya ditingkatkan. Pertanian juga dimodernisasi dengan cara mengambil alih alat produksi untuk dikelola oleh negara. Meninggalnya Stalin pada 5 Maret 1953 membuat kekuatan Uni Soviet mengendur dan banyak orang berduka karena kehilangan pemimpin besar mereka. Namun bagi sebagian orang lainnya yang dipenjara karena kebijakan Stalin, hal ini membawa harapan baru.

Sejarawan Polly Jones menegaskan bahwa saat Nikita Khrushchev menggantikan Joseph Stalin, dimulailah program Khrushchev Thaw, yang merupakan usaha de-Stalinisasi Uni Soviet. Khrushchev mengkritik pengkultusan sosok Stalin di Kongres Partai Komunis Uni Soviet (PKUS) serta melonggarkan aturan-aturan ketat dan membebaskan tahanan politik era Stalin. Reformasi tersebut terus digenjot hingga naiknya Mikhail Gorbachev sebagai sekjen PKUS pada 11 Maret 1985. Gorbachev meluncurkan program percepatan ekonomi dan merampingkan birokrasi pemerintahan. Ketimbang merangsang kebangkitan komunisme, Gorbachev lebih memilih kebijakan Glasnost (keterbukaan) dan Perestroika (restrukturisasi).

Glasnost dimaksudkan untuk mendorong dialog serta membuka pintu kritik terhadap seluruh aparat Uni Soviet. Kontrol negara atas media maupun opini publik mengendur, sehingga gerakan reformasi demokratik menggema di seluruh Uni Soviet. Sementara Perestroika bertujuan untuk memperkenalkan kebijakan pasar bebas bagi industri yang dikelola pemerintah. Kontrol harga juga dicabut di beberapa pasar walaupun struktur birokrasi komunis masih tetap bercokol.

Saat Presiden Amerika Serikat, Ronald Reagan, meluncurkan program Pertahanan Strategis dengan membangun sistem pertahanan rudal balistik antarbenua pada 1983, Uni Soviet merespon dengan menaikkan anggaran militer mereka. Diperkirakan anggaran militer Uni Soviet berada di kisaran angka 10% hingga 20% dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara. Hal tersebut berbanding terbalik dengan tren ekonomi Uni Soviet yang sedang lesu.

Bubarnya Uni Soviet tidak serta merta membuat berakhirnya Perang Dingin, namun mempengaruhi peta perseteruan antara Blok Timur dan Blok Barat. Perang Dingin muncul pasca Perang Dunia II, dimana saat itu hanya ada dua kekuatan besar dunia, yakni Blok Timur yang dipimpin Uni Soviet dan Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat. Kedua blok tersebut berebut pengaruh dan dukungan, terutama kepada negara-negara yang baru merdeka setelah Perang Dunia II.

0 Comments