Ultras Klub Sepak Bola Mesir, Lebih Dari Sekedar Pemain ke 12


Di Indonesia, rivalitas antar pendukung klub sepak bola yang sudah kita ketahui adalah antara pendukung Persebaya dengan Arema dan pendukung Persib dengan Persija. Rivalitas antar pendukung klub bola tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di seluruh dunia. Di Argentina misalnya, rivalitas antara River Plate dan Boca Juniors sudah sangat terkenal.

Di Mesir pun demikian. Rivalitas antara Zamalek dan al-Ahly menjadi salah satu rivalitas terpanas di dunia. al-Ahly yang didirikan pada tahun 1909 adalah wajah dari kelompok nasionalis yang memperjuangkan kemerdekaan Mesir dari tangan kolonialisme Inggris. Sementara Zamalek yang berdiri pada tahun 1911 dekat dengan kalangan monarki dan elit Inggris hingga ekspatriat.

Usai bertanding pertama kalinya pada tahun 1917, urusan kedua klub kemudian tidak hanya di lapangan hijau, namun melebar hingga ke ranah politik. Kedua klub dijadikan mesin politik oleh penguasa Mesir saat itu. Saat Raja Farouk berkuasa, ia menjadikan Zamalek sebagai alat pencitraannya. Namun saat ia digulingkan oleh militer pada tahun 1952 dan pemerintahan diambil alih oleh Jenderal Nasser, al-Ahly kemudian dijadikan tim kesayangan oleh pemerintah.

Tensi rivalitas kian memanas mulai tahun 1970an. Perbedaan ideologi dan kecintaan berlebih pada klub tak jarang diejawantahkan dengan aksi kekerasan. Dan rivalitas tersebut terus berlangsung sampai sekarang.

Namun kala rezim Hosni Mubarak berkuasa, titik damai antara pendukung Zamalek dan al-Ahly yang awalnya terlihat mustahil namun kenyataannya berkata lain. Pada saat itu pendukung Zamalek dan al-Ahly memalingkan sejenak rivalitas diantara mereka dan menggantinya dengan teriakan "Ganti Mubarak!".

Ziad Assem Naboulsi menjelaskan bahwa bersatunya ultras Ahlawy dan White Nights dalam agenda politis yang kemudian disebut "Arab Spring" itu dilandasi sikap muak atas pemerintahan Mubarak. Di bawah rezim Mubarak, kesejahteraan rakyat Mesir tak tercukupi, represi dimana-mana, dan tentunya kekuasaan negara makin absolut.

Itulah yang membuat Ultras yang mulanya menolak untuk terjun dalam aksi politis berubah haluan. Tujuan mereka bukan lagi nama besar klub, tapi mendongkel Mubarak dari tahtanya. Terbukti pada 25 Januari 2011 di Tahrir Square, para Ultras berdiri di barisan terdepan demonstran. Mereka memobilisasi massa untuk melawan aparat yang menjadi simbol kekuasaan otoriter Mubarak dan tak henti-hentinya menyanyikan lagu anti-pemerintah. Kerja keras tersebut akhirnya berhasil, mubarak berhasil digulingkan, harapan dipimpin oleh pemerintahan yang lebih baik sudah di depan mata.

Usai "Arab Spring" pun rivalitas masih berlanjut. Namun mereka sepakat untuk menambahkan aparat dan pemerintahan yang lalim sebagai musuh bersama. Pada bulan Februari 2012 terjadi insiden berdarah di Stadion Port Said. Pertandingan antara al-Masry melawan al-Ahly tersebut berakhir ricuh hingga menewaskan 74 orang. Seusai peluit panjang ditiupkan, para pendukung al-Masry yang bersenjatakan pisau menyerang pendukung al-Ahly dengan membabi buta.

Sebenarnya ada polisi anti huru-hara didalam stadion, namun mereka seperti membiarkan kericuhan ini terjadi. Ultras pun menuduh pemerintah dan militer berada di balik insiden ini karena ingin balas dendam atas tragedi Tahrir Square. Logikanya, para pendukung tidak akan bisa masuk begitu saja ke dalam stadion dengan membawa senjata tajam.

Dari kisah diatas, dapat kita petik pelajaran bahwa fanatisme berlebih itu tidaklah baik, namun rivalitas dapat ditepikan sejenak dan bersatu untuk melawan "musuh" yang lebih besar.

0 Comments