Strategi Mematikan Bernama Blitzkrieg


Pada peperangan zaman pertengahan, para pasukan yang berperang biasanya mengenakan baju zirah yang terbuat dari logam dan besi. Namun masalahnya, baju zirah tersebut cukup berat sehingga membuat pergerakan pasukan jadi agak lambat. Untuk mengatasi masalah tersebut, digunakanlah kuda. Namun, prajurit yang menggunakan kuda di zaman itu biasanya adalah kaum bangsawan, tuan tanah, atau ksatria. Akhirnya malah mereka yang justru "terlindungi" oleh prajurit pejalan kaki (infanteri) daripada sebaliknya.

Dari paradigma inilah, Jenderal Heinz Wilhelm Guderian merumuskan ide awal strategi Blitzkrieg. Strategi ini muncul karena Guderian menyesalkan strategi perang statis pada saat Perang Dunia I, yang lebih dikenal sebagai "Perang Parit". Pasukan dari pihak yang berperang seringkali terpaku dalam parit-parit perlindungan selama berbulan-bulan sehingga semangat tempur pasukan perlahan berkurang.

Oleh karena itu, mati-matian ia mengupayakan strateginya kepada militer Nazi Jerman agar mereka membuat mesin perang yang dinamis dan kuat. Ide awalnya sebenarnya sederhana, ia ingin militer punya divisi sendiri yang berisikan kendaraan lapis baja. Namun idenya dianggap tidak masuk akal dan gila.

Reaksi tersebut bisa dimaklumi. Paradigma perang pada zaman itu menganggap kendaraan lapis baja adalah pendukung infanteri. Jadi tank harus dilindungi oleh pasukan infanteri. Masih sama dengan paradigma perang zaman pertengahan.

Namun menurut Guderian, paradigma tersebut harus dibalik. Kendaraan lapis baja justru harus menjadi ujung tombak penyerangan. Liddel Hart (Inggris) maupun Charles de Gaulle (Perancis) melihat bahwa perang di masa depan akan ditentukan dari seberapa cepat tank dan senjata berat mampu diproduksi untuk digunakan sebagai pembobol garis depan pertahanan lawan. Ide divisi khusus kendaraan lapis baja Guderian juga diperolehnya dari buku militer Liddel Hart.

Walau Perancis punya lebih banyak tank dan kendaraan lapis baja daripada Nazi Jerman, tapi penggunaannya yang tersebar di wilayah-wilayah perbatasan membuat kekuatan Perancis begitu lemah. Penyebaran ini karena Perancis masih menggunakan paradigma lama bahwa tank adalah pendukung infanteri.

Sebaliknya, Guderian justru memusatkan divisi kendaraan lapis baja menjadi satu kesatuan, sehingga memiliki kekuatan yang besar. Terbukti pada 10 Mei 1940, pertahanan Perancis di Pegunungan Ardennen diporak-porandakan Nazi Jerman. Paradigma Blitzkrieg membuat serangan Nazi Jerman sangat mematikan, seperti lemparan tombak yang begitu kuat, tajam, dan cepat.

Bobolnya pertahanan Perancis membuat mereka takluk dalam waktu lima minggu. Serangan cepat dan kuat ini juga harus dikombinasikan dengan kekuatan darat, laut, dan udara yang berada dalam satu komando. Semua aspek tersebut dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk fokus menyerang satu target. Dari situ, Blitzkrieg pun melegenda. Namun karena Blitzkrieg pula, Nazi Jerman takluk dari sekutu yang menggunakan cara perang yang relatif sama.

0 Comments