Search

St. Pauli, Klub yang Tetap "Kiri" Hingga Kini


St. Pauli adalah distrik di Hamburg yang ditinggali kurang lebih 27.612 penduduk. Pauli menjadi markas salah satu klub bola "kiri" dunia, St. Pauli. Semuanya bermula pada tahun 1907, saat St. Pauli yang saat itu masih menjadi  bagian dari klub senam bernama Hamburg-St. Pauli Turnverein 1862 melakukan pertandingan pertamanya melawan Aegir. Pada 1924, St. Pauli memilih memisahkan diri dan membentuk klub sepakbola sendiri.

Perang dunia II membuat Hamburg hancur lebur, tak terkecuali lapangan milik St. Pauli. Di tengah masa sulit tersebut, datanglah Karl Miller, seorang pemain sepakbola Jerman, yang ingin membangkitkan St. Pauli. Ia juga mengajak teman-temannya, yakni  Helmut Schön, Heinz Köpping, Walter Dzur, dan Heinz Hempel untuk bermain di St. Pauli.

Pada 1946, St. Pauli bermain di tempat barunya, Heiligengeistfeld. Setelah itu prestasi mereka mulai stabil dan mampu bersaing di papan atas kompetisi. Mereka berhasil promosi ke Bundesliga untuk pertama kalinya pada musim 1977/1978. Namun mereka hanya bertahan semusim saja di Bundesliga dan terdegradasi pada musim 1978/1979.

Petra Daniel dan Christos Kassimeris menyebut kritisnya St. Pauli tak bisa dilepaskan dari konteks sosial-politik  yang terjadi di Hamburg pada kurun waktu 1970-an hingga 1980-an. Saat itu, kriminalitas, prostitusi, aksi kekerasan, peredaran obat-obatan terlarang, hingga perang antar geng merupakan pemandangan yang jamak dijumpai sehari-hari di Hamburg. Pemerintah setempat pun bertindak tegas dengan mengusir dan menangkap mereka yang bertindak anarkis.

Langkah tersebut berhasil, St. Pauli menjadi "bersih". Lenyapnya kriminalitas membuat para pelaku bisnis tertarik berbisnis di St. Pauli. Selain karena situasi sudah aman, letak St. Pauli yang strategis karena dekat dengan pelabuhan terbesar di Jerman juga menjadi salah satu alasannya. Pembangunan pun berjalan dengan luar biasa.

Namun geliat pembangunan tersebut memakan korban. Pada 1981, beberapa aktivis kiri menolak rencana pengembang yang akan membangun mal dan perumahan di Hafenstrasse, yang banyak ditinggali oleh imigran dan kelas pekerja. Resistensi sempat memuncak karena aparat memaksa mereka pindah dengan kekerasan.

Perlawanan mereka tidak hanya melalui demonstrasi, tapi juga sampai ke Millerntorn Stadium, markas St. Pauli. Deretan spanduk bertuliskan "Jangan lagi fasisme! Jangan pernah lagi berperang!" selalu terpampang saat St. Pauli berlaga. Selain itu, supporter St. Pauli yang memiliki latar belakang yang beragam, turut membuat fanzine bertajuk "Millerntorn Roar!" yang isinya menolak fasisme, kapitalisme, dan rasisme. Penolakan diwujudkan juga dengan diciptakannya simbol baru untuk St. Pauli yang berupa gambar tengkorak dengan sepasang tulang bersilang. Simbol tersebut memiliki arti perlawanan orang miskin kepada mereka yang kaya.

Sikap politis supporter St. Pauli semakin kuat kala mereka mendapatkan fasilitas dan ruang untuk pendidikan maupun aspirasi politik melalui partai-partai berhaluan kiri, seperti Sozialistische Einheitspartei Deutschlands (Partai Persatuan Sosialis Jerman), Deutsche Kommunistische Partei (Partai Komunis Jerman), dan yang terbaru, Die Linke.

Tujuan mereka sama, mengayomi imigran, menentang represi aparat, dan mendorong proyek berbasis sosial, budaya, komunitas, dan keterlibatan masyarakat. Mereka juga menolak pembangunan pusat perbelanjaan yang mengakibatkan orang-orang miskin kehilangan tempat tinggal.

Memasuki tahun 2000-an, saat gejolak rasisme, pelecehan seksual, kekerasan, hingga bangkitnya sayap kanan merebak ke sendi-sendi kehidupan, termasuk sepakbola, St. Pauli berada di garis depan untuk melawan semua itu. Bertempat di Fanladen (toko klub), mereka melakukan berbagai kegiatan, seperti diskusi anti-fasis dan ektrimisme kanan, merealisasikan proyek "KiezKick" yang berisikan pelatihan dan edukasi tentang pluralitas sampai gender, hingga mengadakan turnamen untuk para pengungsi. Orang-orang yang berkumpul di Fanlanden juga merealisasikan program "Viva con Agua" yang menghimpun bantuan akses air minum bersih ke negara berkembang, hingga menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk pekerja paksa di Belarus pada 2007.

Namun keteguhan St. Pauli dalam memegang prinsip mereka, terutama anti-komersialisasi sepakbola, berefek pada prestasi mereka yang seret karena tidak memiliki cukup uang untuk memperkuat tim. Saat St. Pauli dipimpin oleh Corny Littman, situasi klub sedang remuk. Selain terancam degradasi, mereka juga terancam bangkrut. Keadaan finansial mereka lemah ditambah mereka ditinggal para pemainnya. Littman sebenarnya bisa saja menjual kepemilikan klub ke investor lain, namun ia tahu keputusannya akan menimbulkan pertentangan di kalangan supporter, karena bagi para supporter, St. Pauli adalah entitas yang haram hukumnya dijual ke simbol kapitalisme. Untuk memperbaiki situasi, Littman kemudian mengajak perwakilan supporter untuk duduk bersama mencari jalan keluar.

Akhirnya diputuskan langkah-langkah untuk menyelamatkan klub, seperti melakukan penghematan dengan memanfaatkan pemain muda dan lokal, hingga menjual lisensi kepemilikan merchandise ke pihak ketiga. Tapi tetap tidak ada peran dari investor. Perlahan tapi pasti, keadaan semakin membaik. St. Pauli lolos dari kebangkrutan.

Namun meski mampu bangkit, ketakutan akan penurunan prestasi klub tetaplah menghantui. Tapi presiden klub saat ini, Oke Göttlich, tidak mau ambil pusing. Karena baginya, yang paling utama adalah mempertahankan identitas St. Pauli. "St. Pauli adalah, dan akan selalu menjadi klub sepakbola sosial yang peduli keadaan sekitar. Kami akan selalu menentang rasisme dan homofobia, selalu melindungi yang lemah dan miskin, karena itu penting bagi kami. Itu mengalir dalam darah kami." ungkapnya.

Post a Comment

0 Comments