Search

Old Firm Derby: Antara Celtic, Rangers, dan Agama


Sepakbola tidak hanya sekedar tentang gol maupun trofi, sepakbola lebih dari itu. Politik, sosial, bahkan agama pun bisa masuk ke sepakbola. Kota Glasgow contohnya. Rivalitas antara Rangers dan Celtic selalu panas tidak hanya karena urusan prestasi, tapi juga agama.

Glasgow Rangers didirikan pada tahun 1872 oleh sekelompok pemuda Protestan asal Gareloch. Sementara Glasgow Celtic didirikan pada 1888 oleh Bruder Walfrid, yang juga seorang biarawan, untuk mengumpulkan donasi bagi komunitas Katolik kota yang miskin. Di masa awal Liga Skotlandia berjalan tahun 1890-an, Celtic berjaya. Kesuksesan itu membuat Celtic populer dan mendapatkan atensi publik, termasuk dari para imigran Irlandia yang tinggal di Skotlandia.

Matt Gaul menulis bahwa di Skotlandia, para imigran yang mayoritas pemeluk Katolik tersebut jadi sasaran risak dari orang-orang Skotlandia yang mayoritas Protestan. Hidup mereka dipersulit dan dibuat sengsara. Namun di tengah rasa was-was tersebut, mereka menemukan pelarian dengan mendukung Celtic, yang membawa semangat kolektif komunitas Katolik.

Kesuksesan Celtic membuat Rangers merasa terancam eksistensinya. Mereka pun mencari dukungan dengan cara yang tidak elegan. Presiden Rangers saat itu, John Ure Primrose yang juga politisi anti-Irlandia dan anti-Katolik melancarkan propaganda dan sentimen kebencian pada Celtic dan pendukungnya.

Dari situ, rivalitas antara Celtic dan Rangers yang biasa disebut "Old Firm" ini tidak hanya di lapangan hijau, tetapi merembet hingga agama, bahkan politik. Celtic dan pendukungnya berideologi sosialisme dan menolak bergabung ke Inggris. Sementara Rangers dan pendukungnya berideologi konservatisme dan mendukung Inggris.

Karena sudah tertanam kuat dan menjadi tradisi, di era modern sekarang pun rivalitas mereka masih sama saja. Rangers bahkan menerapkan kebijakan untuk tidak merekrut pemain beragama Katolik, walau pada akhirnya kebijakan ini gugur tahun 1989 saat Rangers memboyong Maurice Johnson yang beragama Katolik.

Di lapangan, kedua supporter juga selalu saling ejek. Pendukung Celtic selalu menyanyikan lagu dan mengibarkan bendera untuk mendukung Republik Irlandia dan Tentara Republik Irlandia (IRA). Pendukung Celtic juga mengejek pendukung Rangers sebagai Protestan sayap kanan yang masih saja terpikat dengan monarki Ratu Elizabeth. Pendukung Rangers pun sering menyanyikan lagu berjudul "F*** the Pope" yang ditujukan kepada pendukung Celtic. Aksi saling ejek ini sering berakhir dengan kekerasan.

Pemerintah Skotlandia sebenarnya juga tidak tutup mata tentang masalah ini. Pemerintah juga sempat mewacanakan pembentukan regulasi untuk menghukum para pelaku kekerasan di sepakbola. Namun wacana tersebut tak diteruskan karena regulasi tersebut dianggap terlalu mengintervensi dan dikhawatirkan malah semakin memperkeruh situasi.

Old Firm memang tidak hanya soal sepakbola, tetapi juga menyangkut agama, politik, hingga sejarah. Persaingan memang membuat sepakbola lebih bergairah dan berwarna. Namun bila berujung pada baku hantam, maka hilanglah keindahan dan nilai-nilai sportivitas dalam sepakbola.

Post a Comment

0 Comments