Nikolai Starostin dan Kecintaannya Pada Sepak Bola


Klub-klub sepakbola di Uni Soviet (Rusia), pada era komunisme, memiliki hubungan dengan institusi ataupun perusahaan yang dikontrol oleh pemerintah. Di kota Moskow misalnya, ada Dynamo Moscow yang memiliki hubungan dengan satuan polisi rahasia Rusia, N.K.D.V. Kemudian Lokomotiv Moscow yang dimiliki oleh perusahaan kereta api negara. Lalu CSKA Moscow yang merupakan tim Tentara Merah (Red Army). Serta Torpedo Moscow, yang didanai oleh pabrikan mobil Torpedo-Zil. Hal ini membuat sepakbola disana menjadi membosankan dan kurang greget.

Hingga akhirnya pada tahun 1934, Nikolai Starostin mendirikan tim sepakbola yang mencerminkan masyarakat kelas pekerja bernama Spartak Moskow, yang tentunya tidak berafiliasi kepada pemerintah. Nama "Spartak" diambil dari nama Spartacus, seorang gladiator Romawi yang dikenal sebagai simbol perlawanan terhadap penindasan, karena memimpin pemberontakan melawan Kekaisaran pada 2000 tahun silam. Walaupun populer, sepakbola di Uni Soviet hanya bisa dinikmati oleh kaum borjuis, karena biaya menonton pertandingan lebih tinggi daripada upah para pekerja.

Nikolai mengenal sepakbola sejak usia sembilan tahun. Setelah meletusnya Revolusi Bolshevik pada tahun 1917, ia menjadi tulang punggung keluarga dengan bermain sepakbola dan hoki es. Kemampuan olah bolanya semakin terasah seiring berjalannya waktu, hingga ia mendapat kesempatan untuk menjadi pemain sekaligus kapten tim nasional Uni Soviet.

Menjadi pemain bintang membuat Nikolai bertemu tokoh-tokoh berpengaruh, salah satunya Aleksandr Kosarev, ketua Komsomol (Liga Pemuda Komunis). Hingga akhirnya mereka sepakat untuk mendirikan tim Spartak Moscow. Spartak tidak kesulitan memperoleh dukungan, khususnya dari masyarakat kelas pekerja. Spartak hanya butuh waktu empat tahun semenjak berdirinya klub untuk menjadi juara Liga Rusia. Prestasi tersebut membuat Spartak kian populer di mata masyarakat. Namun kepopuleran Spartak membuat rezim Stalin merasa terancam.

Pada akhir 1930-an, Stalin melakukan "Pembersihan Besar-Besaran" untuk menyingkirkan lawan-lawannya. Eksekutor kebijakan ini adalah satuan polisi rahasia Rusia, N.K.D.V, yang kelak menjadi KGB. Hal itu membuat pendukung Spartak berontak dan mereka semakin membenci pendukung dan klub Dinamo Moscow, mengingat Dinamo memiliki hubungan dengan polisi. Inilah yang membuat Kepala N.K.D.V. sekaligus Presiden klub Dinamo Moscow, Lavrenti Beria, murka.

Korban pertama dari periode "Pembersihan Besar-Besaran" adalah Aleksandr Kosarev, anggota Dewan Pembina Spartak. Tewasnya Kosarev menjadi pukulan telak bagi Spartak, karena selama ini Spartak aman dari serangan politik karena lobi-lobi Kosarev kepada Partai Komunis. Setelah Kosarev, giliran Starostin yang menjadi target. Ia dituduh ini itu, walaupun tak terbukti kebenarannya. Pada tahun 1942, Starostin dan saudara-saudaranya ditangkap dan dibuang ke Gulag bersama tahanan politik lainnya selama 10 tahun.

Namun di Gulag, ia diperlakukan bak pahlawan. Ketenarannya membuat para penghuni kamp tahanan melakukan apapun untuk melindunginya. Namun pada tahun 1945, atas permintaan seorang jenderal, Starostin dipindah ke Amur, daerah sebelah timur Rusia. Ia dipindah kesana untuk melatih tim lokal bernama Dinamo Komsomolsk. Kemudian Starostin diboyong ke Moskow oleh Vassily, putra Stalin, untuk melatih tim Angkatan Udara Soviet, VVS Moscow. Hal yang ironis.

Dari kisah ini saya akui bahwa Starostin adalah Spartacus-nya Rusia, yang dicintai rakyat namun dianggap ancaman oleh penguasa.

0 Comments