Search

Memandang Sepak Bola Seperti Red Star Paris


Bila berbicara tentang Paris dalam konteks sepak bola, pasti yang melintas pertama kali adalah Paris Saint-Germain. PSG adalah klub kaya raya yang dihuni banyak pemain bintang, wajar memang bila menjadi pusat perhatian. Namun sebenarnya banyak sekali klub sepak bola di Paris, baik klub amatir maupun profesional. Salah satunya adalah Red Star Football Club atau yang biasa dikenal sebagai Red Star Paris.

Red Star didirikan pada 1897 oleh Jules Rimet, seorang pemuda yang kelak menjadi presiden FIFA dan menjadi inisiator lahirnya piala dunia. Di klub yang didirikannya ini, Rimet menolak mendiskriminasi anggotanya berdasarkan kelas. Karena bagi Rimet, semua orang berhak untuk berkontribusi kepada klub, dan ia percaya bahwa dengan sepakbola, dunia dapat disatukan.

Tak perlu waktu lama, banyak masyarakat Paris, terutama kelas pekerja sayap kiri, yang bergabung dengan Red Star. Mereka bergabung karena sejalan dengan pemikiran Rimet dan juga logo serta nama Red Star identik akan komunisme, walaupun pada kenyataannya, inspirasi logo Red Star berasal dari pengasuh Inggris-nya semasa kecil, Miss Jenny.

Mark Godfrey mengatakan bahwa koneksi klub dengan kelas pekerja sayap kiri semakin kuat saat Nazi mengeksekusi Rino Della Negra, putra imigran Italia sekaligus anggota Red Star dan kelompok pembebasan Manouchian, pada 1944. Della Negra sempat menulis surat terakhir yang diberikan kepada saudaranya, dia menulis “Halo dan selamat tinggal untuk Red Star.”. Kisah perjuangan serta pengorbanan itu kemudian menjadi simbol relasi Red Star dengan kelompok sayap kiri.

Sepak terjang Red Star dimulai pada 1898 ketika bergabung dalam divisi tiga liga Union des Sociétés Françaises des Sports Athlétiques. Enam tahun kemudian, Red Star naik ke divisi pertama dan berubah nama menjadi Red Star Amical Club usai menggabungkan diri bersama Amical Football Club. Sepanjang waktu itu, Red Star bermain di Grenelle selama tiga tahun sebelum pindah ke Saint-Ouen, wilayah suburban di utara Paris, sampai sekarang.

Medio 1920-an menjadi masa kejayaan Red Star. Mereka berhasil meraih empat gelar Coupe de France. Akhirnya Red Star bersama beberapa klub Perancis lainnya membentuk kompetisi yang menjadi cikal bakal Ligue 1. Namun kerasnya kompetisi membuat Red Star tertatih-tatih hingga berkali-kali terdegradasi. Bahkan Red Star sempat turun hingga divisi keenam Perancis dan terancam bangkrut pada 2003.

Red Star perlahan-lahan mampu bangkit. Pada 2006, dari divisi enam mereka mampu merangkak naik hingga mampu berada di Ligue 2 pada 2015. Namun Red Star harus menerima konsekuensi bahwa mereka tidak bisa bermain di markas mereka, Stade Bauer, karena menurut regulasi markas mereka dianggap tidak layak. Red Star pun menjadi tim eksil dan bertanding di Beauvais.

Untuk mengatasi hal itu, presiden klub Patrice Haddad mengusulkan pembangunan stadion baru senilai €200 juta. Namun rencana tersebut urung terealisasi karena mendapat penolakan keras dari para fans. Mereka beranggapan bahwa membangun stadion baru sama saja dengan menghilangkan Stade Bauer sebagai identitas klub. Pada akhir musim 2015-2016 mereka terdegradasi dari Ligue 2.

Selama menduduki kursi presiden klub, Patrice Haddad beberapa kali melakukan terobosan, diantaranya menunjuk David Bellion yang merupakan mantan penyerang Manchester United, untuk menjadi Direktur Kreatif Red Star. Kerja Direktur Kreatif yakni membangun hubungan antara Red Star dengan dunia budaya, seni, dan gaya hidup.

Beberapa ide-ide David Bellion yang telah direalisasikan antara lain mengadakan Red Star Lab yang bertujuan untuk mengedukasi anak-anak akademi Red Star dalam bidang fotografi, jurnalistik, memasak, sampai menari. Lalu bekerjasama dengan studio fashion, Racket Paris, untuk mendesain jersey Red Star. Kemudian meminta bantuan Hotel Radio Paris dan Airplane Mode V1 guna menyusun musik di berbagai acara maupun pertandingan Red Star. Hingga meneken kontrak sponsor dengan media hipster asal Kanada, VICE, di musim 2017-2018. Apa yang dilakukan oleh manajemen Red Star dengan mendekatkan diri dengan fans membuat setiap pertandingan mereka semakin dipadati oleh penonton.

Dari Red Star kita belajar bahwa sepakbola tidak hanya tentang keuntungan, meraih kemenangan, dan meraih piala semata. Lebih dari itu, sepak bola merupakan perwujudan sikap hidup yang menjunjung tinggi integritas, keberagaman, serta menentang keras segala bentuk pemisahan-pemisahan yang didasarkan pada ras, suku, agama, atau dari mana kita berasal.

Post a Comment

1 Comments

  1. Mantap gan artikel-nya, sangat dinantikan untuk artikel yang anda buat selanjutnya

    Agen Bola
    Casino Online
    Judi Slot Online

    ReplyDelete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)