Search

Klub "Kiri" Bernama AS Livorno


Kadang kala, sepak bola tidak hanya sekedar pertandingan selama 2 x 45 menit saja. Namun terkadang sepak bola menjadi medan pertarungan politik. Contohnya Real Madrid yang dulu digunakan oleh rezim fasis Franco sebagai alat propaganda. Kemudian perseteruan antara Celtic dan Rangers yang sarat politik agama. Di Italia ada AS Livorno, klub yang tetap Marxis dari awal didirikan sampai sekarang.

Semua bermula di abad ke-15. Saat itu pelabuhan di Pisa yang menjadi akses penting ke wilayah Mediterania sedang sepi pengunjung. Situasi itu membuat keluarga Medici yang merupakan penguasa Florence, pusing. Untuk mengatasi masalah tersebut, Medici kemudian membangun pelabuhan baru di Livorno, yang terletak 20 mil di selatan Pisa.

Livorno yang awalnya sepi kemudian menjadi ramai setelah Medici menerbitkan undang-undang bernama "Leggi Livornine", yang intinya menyerukan pedagang dari bangsa manapun untuk mengisi kota. Masyarakat Livorno menyambut para pendatang dengan terbuka tanpa memandang latar belakang mereka.

Livorno pun berubah menjadi kota kosmopolit yang dihuni orang dari beragam latar belakang. Pembangunan disana menggeliat. Hingga pada tahun 1656 pemerintah kota mengeluarkan koin emas dengan slogan "Banyak Orang Melebur Menjadi Satu".

Keadaan semakin menggeliat saat industrialisasi dan unifikasi Italia tiba di awal abad ke-19. Kedua faktor tersebut menciptakan dinamika yang kompleks, termasuk kelas-kelas sosial. Ideologi politik seperti komunisme dan fasisme mendapat ruang untuk berkembang usai terjadi banyak pemogokan dan kerusuhan di Italia pada tahun 1920an.

Kemudian pada tahun 1921, Partai Komunis Italia dibentuk di Livorno oleh Antonio Gramsci dan Amadeo Bordiga yang merupakan mantan anggota Partai Sosialis Italia yang keluar karena kecewa dengan arah kebijakan partai. Livorno sengaja dipilih karena disana banyak pekerja pelabuhan yang bisa dijadikan basis massa pendukung.

Walau sempat dilarang eksistensinya pada kontestasi politik maupun kehidupan bermasyarakat oleh rezim fasis Benito Mussolini, namun mereka tidak takut. Mereka terus melawan dan kemudian menjalar hingga deretan bangku di tribun Armando Picchi.

Greg Lea menulis bahwa politisasi kelompok pendukung sepakbola di Italia muncul usai kebijakan regionalisme diterapkan dan berakhirnya Perang Dunia II. Sejak 1946 sampai 1992, pemerintahan dikuasai oleh Partai Demokrat Kristen. Mereka memenangkan suara terbanyak dalam setiap pemilihan.

Namun dominasi mereka meninggalkan banyak kekecewaan karena mereka cenderung berpihak pada kepentingan kelompok kanan, yang membuat masyarakat mencari jalan lain guna menyalurkan hasrat serta keyakinan ideologis mereka, yakni melalui sepak bola.

Partai Komunis Italia memiliki andil dalam membentuk identitas klub AS Livorno pada tahun 1915. Para ultras Livorno pun berkiblat pada ideologi sayap kiri dan berafiliasi yang kuat terhadap kepemilikan akan kota, atau yang disebut "Campanilismo".

AS Livorno memiliki ultras bernama Brigate Autonome Livornese (BAL) yang terdiri dari sempalan kelompok-kelompok macam Magenta, Fedayn, Sbandati, serta Gruppo Autonomo pada 1999. Kelompok ini berada di Curva Nord (tribun utara) stadion Armando Picchi. Tidak hanya menyanyikan lagu untuk mendukung Livorno, namun mereka juga menyanyikan lagu dukungan terhadap komunisme, seperti “Bandiera Rossa” dan “Bella Ciao”. Tidak hanya itu, mereka juga kadang membuat koreografi seperti simbol bintang merah dan palu arit, bahkan poster Che Guevara dan Joseph Stalin.

BAL juga pernah menunjukkan solidaritasnya pada Palestina saat Livorno bertanding melawan klub Israel, Maccabi Haifa, di piala UEFA. Selain itu, mereka juga mengumpulkan dana untuk korban gempa Haiti pada 2010, mendukung kemerdekaan IRA di Irlandia, dan menandatangani perjanjian "Melawan Fasisme" dengan fans Celtic.

BAL pun juga punya musuh, yaitu fans Lazio dan Hella Verona yang dikenal fasis. BAL juga membenci Silvio Berlusconi yang dianggap menjual sepakbola pada kapitalisme dan tidak becus dalam memimpin negara.

Cristiano Lucarelli menjadi pemain kesayangan BAL dan Livorno. Selain karena hobi mencetak gol, ia juga vokal dengan keyakinan politik dan sosialnya. Lucarelli pernah berselebrasi dengan memamerkan kaos bergambar Che Guevara saat ia bertanding membela Timnas Italia U-21 melawan Moldova. Walau akhirnya ia dilarang untuk masuk timnas oleh FIGC.

Banyak orang yang bilang bahwa sepakbola seharusnya terpisah dari politik. Namun bagi AS Livorno, sepakbola adalah mesin politik yang digunakan untuk membantu mengubah realitas masyarakat dan memberikan suara kepada mereka yang terpinggirkan. Di tengah globalisme dan kapitalisme sepakbola, apa yang dilakukan AS Livorno adalah cara agar mereka tetap bertahan dengan idealisme politiknya.

Post a Comment

0 Comments