Irlandia, Negara Barat Paling Pro-Palestina


Irlandia selama ini memang memiliki reputasi sebagai negara Barat paling pro-Palestina dan negara Eropa paling tidak ramah terhadap Israel. Akarnya bukan soal ras atau agama, tapi penindasan yang sama. "Orang Irlandia, sebagai warga terjajah yang selama berabad-abad tinggal di wilayah pendudukan Britania Raya, secara naluriah mengidentifikasi diri dengan perjuangan kemerdekaan di seluruh dunia." kata Gerry Adams, presiden partai nasionalis terbesar di Republik Irlandia dan Irlandia Utara, Sinn Fein, kepada Middle East Asia.

Kolonialisme Britania Raya terhadap Irlandia bermula saat invasi Norman pada abad ke-12. Kerajaan Inggris meresmikan kontrolnya pada tahun 1541 saat raja Henry VII dideklarasikan sebagai penguasa Irlandia. Sejak saat itu, konflik sektarian antara warga asli Irlandia yang menganut Katolik dan pendatang Inggris yang menganut Protestan. Nasionalisme Irlandia mulai tumbuh pada pada abad ke-19 dan perlawanan bersenjata semakin menguat di awal abad ke-20.

Di masa yang sama, saat itu orang-orang Yahudi di Eropa sedang mengalami diskriminasi dan segregasi. Orang-orang Irlandia pun bersimpati pada mereka. Namun dalam tulisan Rory Miler, dukungan itu berubah sejak Deklarasi Balfour pada akhir 1917. Deklarasi Balfour adalah pernyataan publik yang dikeluarkan oleh pemerintah Britania Raya saat Perang Dunia I untuk mendukung tanah air bagi orang Yahudi di Palestina, dimana saat itu wilayah tersebut sedang dikuasai Kesultanan Usmani.

Deklarasi Balfour menuntun pada berdirinya negara Israel pada 1948. Peristiwa yang membuat "kekacauan abadi" di Timur Tengah dimulai ini membuat dukungan orang-orang Irlandia perlahan hilang dan mulai berbalik arah. "Bagi banyak orang Irlandia, Israel tidak lagi terlihat sebagai komunitas agama-nasional yang sedang terkepung dan secara gagah berani memperjuangkan hak-hak alaminya, tapi lebih seperti sebuah koloni yang didirikan secara ilegal oleh kekuatan senjata Inggris dan memaksa penduduk asli untuk pergi." tulis Rory.

Beberapa bulan setelah Israel berdiri, Paus Pius XII mengeluarkan pernyataan tentang karakter Yerusalem sebagai kota penting bagi tiga agama samawi. Karena kehidupan sosial dan politik di Irlandia tak lepas dari pengaruh gereja Katolik Vatikan, maka sejak saat itu pemerintah Irlandia mulai memperhatikan Yerusalem. Makin hari dukungan terhadap Palestina semakin menguat karena manuver Israel yang agresif dalam perluasan wilayahnya dan membuat publik Irlandia memandang Israel sebagai penjajah.

Irlandia baru mengakui Israel secara de jure pada tahun 1963 dan mengizinkan Israel untuk membuka kantor kedutaan besar di Dublin pada tahun 1993. Pasca Perang Enam Hari pada Juni 1967, pada tahun 1969 Menteri Luar Negeri Irlandia, Frank Aiken, menyatakan penyelesaian problem pemukiman ilegal Israel di Palestina sebagai "tujuan paling utama dan mendesak".
Isu-isu pro-Palestina mulai dikampanyekan di level Eropa oleh pemerintah Irlandia setelah bergabung ke Uni Eropa pada 1973. Irlandia menjadi negara Uni Eropa pertama yang menyerukan pendirian negara Palestina pada tahun 1980 dan juga menjadi negara Eropa pertama yang mengakui PLO (Organisasi Pembebas Palestina).

Sepanjang tahun 1970-an hingga tahun 2000 pemerintah Irlandia selalu konsisten memberikan dukungan baik moral maupun bantuan langsung untuk Palestina. Salah satu bentuk dukungan Irlandia kepada Palestina adalah dengan mendirikan kantor perwakilan di Ramallah sejak tahun 2000. Bahkan pemerintah Irlandia dalam kurun waktu tahun 2000-2010 telah memberikan bantuan sebesar 90 juta pundsterling untuk pembangunan dan kebutuhan warga Palestina. Hubungan dengan Israel pun tetap panas, terutama setelah terjadi konfrontasi antara pasukan perdamaian PBB asal Irlandia dan tentara Israel di Lebanon dan ditangkapnya kapal-kapal kemanusiaan Irlandia oleh angkatan laut Israel (MV Rachel Corrie dan MV Saoirse).

0 Comments