Berawal Dari Konferensi Asia-Afrika, Berlanjut Ke Gerakan Non-Blok


Peluang untuk lepas dari kolonialisme bagi negara-negara di Afrika, Asia, Timur Tengah, hingga Amerika Latin terbuka lebar usai berakhirnya perang dunia kedua (1939-1945). Walaupun sebenarnya perang tidak benar-benar berakhir, karena pasca perang dunia kedua, muncul lagi perang yang dikenal dengan "Perang Dingin".

Perang Dingin terdiri dari dua blok, Blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Soviet. Medium politik, ekonomi, hingga propaganda dipakai oleh kedua negara ini untuk merebut pengaruh serta dukungan dari negara-negara yang baru merdeka. Dalam dunia militer, Amerika Serikat mendirikan aliansi NATO dan Uni Soviet membentuk aliansi Pakta Warsawa.

Di tengah memanasnya Blok Barat dan Blok Timur yang terus berebut pengaruh, muncul gagasan poros baru yang ingin berada di posisi netral. Gagasan itu diinisiasi oleh negara-negara yang baru merdeka. Sebagai realisasinya, mereka pun mendirikan Gerakan Non-Blok (GNB).

Diawali dari Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung yang diadakan pada 18 sampai 24 April 1955. Pertemuan tersebut disponsori Indonesia, Myanmar, Sri Lanka, India, dan Pakistan. Sebanyak 29 negara juga mengirimkan delegasinya ke Bandung.

Diskusi KAA berkutat soal mempertanyakan kebijakan Uni Soviet di Eropa Timur dan Asia Tengah, ketegangan Amerika Serikat dengan China, pengaruh Perancis di Afrika Utara, dan lainnya. Pembahasan ini secara tidak langsung menyinggung masalah pengaruh Blok Barat dan Blok Timur dan menghasilkan beberapa kesepakatan netral seperti politik penentuan nasib sendiri, non-intervensi, non-agresi, mengakhiri diskriminasi rasial, perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM), saling menghormati kedaulata negara, dan lainnya.

Akhirnya, pada 1 September 1961, konferensi Gerakan Non-Blok (GNB) pertama diadakan di Belgrade, Yugoslavia (sekarang Serbia). Konferensi ini dipelopori oleh 5 pemimpin negara, yakni Josip Broz Tito (Yugoslavia), Sukarno (Indonesia), Jawaharlal Nehru (India), Kwame Nkrumah (Ghana), dan Gamal Abdel Nasser (Mesir).

Konferensi pertama GNB ini dihadiri oleh 26 negara, yakni Afganistan, Aljazair, Yaman, Myanmar, Kamboja, Sri Lanka, Kongo, Kuba, Siprus, Mesir, Etiopia, Ghana, Guinea, India, Indonesia, Irak, Lebanon, Mali, Maroko, Nepal, Arab Saudi, Somalia, Sudan, Suriah, Tunisia, dan Yugoslavia.

Syarat keanggotaan GNB juga sangat kental dengan pendekatan non-aliansi Blok Barat dan Timur. Negara yang mau bergabung ke GNB diharuskan tidak sedang menjadi bagian dari NATO atau Pakta Warsawa atau telah menandatangani perjanjian militer secara sengaja dengan salah satu blok. Sejauh ini, GNB sudah menyelenggarakan 17 kali konferensi dan memiliki 120 negara anggota.

0 Comments