Search

Bastille Diserbu, Revolusi Perancis Dimulai


Kerajaan Perancis mengalami masalah keuangan pada awal 1789, dimana anggaran mereka defisit 20%. Untuk mengatasi masalah ini, raja Louis XVI memanggil États Généraux (parlemen rakyat) untuk bersidang. Setelah sidang, raja Louis XVI memecat Jacques Necker, menteri keuangannya. Ia dianggap terlalu berpihak pada rakyat. Selain Necker, ada Puységur, Armand Marc, La Luzerne, dan Saint-Priest yang juga dipecat karena alasan yang sama. Pemecatan ini adalah usaha raja Louis XVI untuk membentuk pemerintahan baru yang berpihak padanya. Namun langkah ini adalah sebuah blunder yang fatal.

Berita pemecatan tersebut pun tersebar. Pada 12 Juli, para orator mulai membakar semangat massa, salah satunya adalah Camille Desmoulins, yang merupakan seorang jurnalis dan politisi. Ia meyakinkan massa agar berani melawan dan bersiap-siap seandainya kerusuhan besar terjadi.

Situasi Paris mulai mencekam. Ribuan orang mulai turun ke jalan. Rumornya mereka (massa) akan menyerbu penjara Bastille, yang dianggap sebagai simbol tirani. Rumor tersebut sampai ke telinga Bernard René Jourdan, komandan utama penjara Bastille. Karena sadar kekuatan pertahanan penjara Bastille sangat lemah dalam menghadapi ribuan massa, ia lalu memperkuat amunisi dengan tambahan 250 barel mesiu.

Pagi hari, 14 Juli 1789, massa yang terdiri dari sans-cullotes (golongan ketiga dalam hierarki masyarakat Perancis) melakukan penyerbuan ke Hôtel des Invalides, dengan tujuan untuk merebut amunisi dan senjata sebelum menyerbu Bastille. Gubernur Invalides, Charles-François Virot menyerah tanpa perlawanan.

Hari itu, penjara Bastille hanya dihuni oleh 7 orang tahanan. Pada sore hari, ratusan sans-cullotes yang bersenjatakan pedang dan peralatan perang lain berkumpul di sekitar penjara Bastille. Penjara Bastille memiliki delapan menara besar yang saling terhubung dengan tembok setinggi 30 meter dan tebal 1,5 meter. Bisa dibilang sangat aman dari serangan luar.

Lewat pukul 2 siang, jumlah massa semakin banyak dan tensi semakin meninggi. Akhirnya bentrok fisik pun tak dapat terhindarkan. Mills Whitman dalam A Biographical History of the French Revolution (1933) menggambarkan situasi saat itu, dimana massa memaksa bergerak dari area luar penjara menuju ke dalam dengan rusuh. Ketika massa sudah di dalam, tembak-menembak antara penjaga dan penyerbu terjadi.

Jourdan dan pasukannya pun akhirnya mengibarkan bendera putih tanda menyerah karena tak kuasa melawan massa. Sisa meriam dan mesiu diambil paksa oleh massa dan Jourdan digiring ke Hôtel de Ville untuk diadili. Namun belum sampai di Hôtel de Ville, Jourdan terlanjur dibunuh dan kepalanya diarak keliling kota.

Peristiwa kerusuhan Bastille ini menjadi penanda dimulainya Revolusi Perancis dan menjadi akhir dari ancien régime. Penjara Bastille tak pernah dibangun kembali setelah dirobohkan. Kemenangan rakyat Perancis semakin lengkap saat raja Louis XVI dan istrinya, Marie-Antoinette, dipenggal dengan guillotine pada 1793. Sejak saat itu, semangat Revolusi Perancis menyebar ke seluruh dunia.

Post a Comment

0 Comments